Kamis, 29 Mei 2014

PUISI DAN KRITIK STUKTURALIS (NEW CRITISEM)

Nama         : Ahmad Jais
Nim             : 10533 686 111
No. Urut      : 17
Hujan Dan Tangis
Oleh : Ahmad Jais

Langit kelam
Deru Guntur berkelekar
Tetesan titik air suci
Membasuh pelosok nusantara
Titik air yang seakan mencari jati diri
Titik air yang seakan menagih hutang
Di balik rintiknya dia menegur
Di balik derasnya dia menghukum
Itu semantikku padamu hujan
Indra yang merasai
Terlukis dipasang bola mata
Mengalir air suci
Membasahi kulit pelipis kiri dan kanan
Tetesan air yang kadang menutup duka
Tetesan air yang kadang merangkai suka
Dibalik tetesannya dia berekspresi
Dibalik tetesannya dia menjawab
Dan itu semantikku pada tangis
 
 
 
 
A.      Kritik New Criticism
Penerapan cara kerja new criticism pada puisi yang berjudul “ hujan dan Tangis “ yaitu sebagai berikut :
1.      Close reading
Pencermatan yang dilakukan dengan teliti dan memdetail terhadap baris demi baris, kata demi kata sampai ke akar-akar katanya. Penerapan close reading puisi yang berjudul “ hujan dan tangis “ bias dilakukan seperti:
 
Langit kelam
Deru guntur berkelekar,  
 
Bait di atas  terdapat kata berkelekar yang akar katanya kelekar yang berarti bersenda gurau. Dalam puisi tersebut bunyi Guntur yang dianggap berkelekar.
2.      Empiris
Cara kerja empiris yaitu adanya analisis, observasi, bukan pada teori. Secara keseluruhan cara kerja empiris pada puisi yang berjudul “ hujan dan tangis “ jika kita menitikberatkan pada analisis maupun observasi pada proses pengkrititkannya maka kita akan menemukan makna yang digambarkan penulis pada setiap terjadinya hujan serta tangisan dalam kejadian sehari-hari. Namun, anggapan ini tidak semua harus sama pada setiap orang yang mengapresiasi puisi tersebut.
3.      Otonomia
Karya sastra adalah sesuatu yang mandiri dan berdiri sendiri, tidak tergantung pada unsur-unsur lain, termasuk kepada penyair/penulisnya sendiri. Kemudian jika kita kaitkan antara puisi yang berjudul “ hujan dan tangis “ maka puisi tersebut memiliki makna umum terhadap kejadian-kejadian yang sering terjadi dalam kehidupn sehari-hari seperti terjadinya hujan dan tangisan. Akan tetapi penulis lebih kreatif dalam mengkonotasikan semesta yang menangis dalan terjadinya hujan.
4.      Concreteness
Hasil yang diperoleh setelah mengapresiasi sebuah karya sastra sehingga tidak menutup kemungkinan akan dijadikan sebagai pedoman hidup. Kemudian tidak menutup kemungkinan setelah mengapresiasi puisi “ hujan dan tangis “  maka dalam kehidupan sehari-hari ketika terjadi hujan maka kita akan lebih memahami serta menghargai setiap tetes air hujan itu. Begitupun ketika terjadi tangisan maka seseorang akan dapat memahami makna jatuhnya air mata apakah bentuk kesedihan?, apakan bentuk luapan kegembiraaan?, daan sebagainya.
5.      Bentuk (form)
Keberhasilan seorang penyair dalam pemilihan katanya (diksi) sehingga hal inilah yang membuat karya sastra tersebut berisi atau bermakna mendalam. Dalam puisi yang berjudul “ hujan dan tangis “ makna konotasi seperti hujan yang dianggap penulis sebagai airmatanya dunia. Penulis beranggapan seperti itu karena yang terjadi sekarang ini adalah pengrusakan alam dimana-mana hal ini lah yang membuat penulis mengidentikkan hujan sebagai bentuk kesedihan mendalam akibat ulah manusia itu sendiri.
6.      Diksi (pilihan kata)
Penulis dalam puisi “ hujan dan tangis “  melakukan pemilihan kata (diksi) yang sangat menyentuh. Seperti Deru Guntur berkelekar dalam kalimat ini bunyi Guntur yang dianggap berkelekar hal ini dikarenakan penulis ingin lebih menekankan kepada pembaca agar dapat membuka matanya dan melihat yang terjadi disekelilingnya. Sehingga dapat mengetahui dibalik kemarahannya bunyi Guntur.
7.      Tone (nada)
Sikap penyair (aku lirik) terhadap diri sendiri, diri sendiri terhadap objek atau bahan pembicaraan, dan diri sendiri terhadap lawan bicaranya. Kemudian ketika kita kaitkan dengan puisi yang berjudul “ hujan dan tangis “  maka penulis dalam hal ini menempatkan dirinya terhadap bahan pembicaraan. Hal ini terlihat dari pembicaraannya terhadap terjadinya hujan di alam semesta ini serta terjadinya tangisan yang menimpa insan manusia. Nada yang tepat adalah diri sendiri dan objek atau bahan pembicaraan.
8.      Metafor
Perbandingan satu objek dengan objek lain tanpa menggunakan kata-kata pembanding seperti, bagaikan, dan sebagainya. Contohnya bait puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “ Aku “ seperti pada baitnya yang berbunyi “aku ini binatang jalang”. Dalam hal ini Chairil Anwar yang menganggap dirinya sebagai binatang jalang yang bebas berekspresi serta hidup dan tidak terikat hak-haknya.
9.      Simile
Perbandingan terhadap satu objek dengan objek lain dengan menggunakan kata-kata pembanding seperti, bagaikan, seumpama, ibarat, laksana dan sebagainya. Seperti yang termuat dalam bait puisinya WS Renda yang berbunyi “ rambutnya merah tergerai , bagai berkas benang-benang rayon warna emas “. Dalam bait ini Rendra membandingkan rambut dengan benang-benang rayon warna emas. Rendra menganggap bahwa rambut begitu indah dan berkilau sama seperti benang-benang rayon yang berwarna emas.
10.  Onomatopea
Peniruan bunyi seperti yang terjadi dan dijumpai dalam kejadian sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari puisi karya Ahmad Jais yang berjudul “ angin dan rinduku “
Ssssttttt
Oh angin malam
Aku beramanah pabamu
Sampaikanlah rinduku
Pada keklasihku di negeri seberang
Jika kita melihat secara sekilas kata ssssttttt itu tidak memiliki makna apapun. Akan tetapi dalam puisi ini kata tersebut juga merupakan unsur yang menbangun dilihat dari segi onomatopea atau peniruan terhadap bunyi yang terjadi pada alam semesta ini.  
11.  Paradoks
Lawan atau kebalikan dari sesuatu yang dipergunakan dengan maksud untuk menyindir.  Hal ini ditemukan dalam bait puisi karya (Acep, Bandung 1982 )
Aku menggelinding
Hanya debu
Tertiup dari sudut kesudut
Terseret-seret  irama yang riuh
Unsure paradoks yang diungkapkan penulis dalam karyanya ini untuk memberikan sindirian kepada manusia agar selalu mengingat tuhannya dan mengerjakan apa yang diperintahkannya serta menjauhi segala apa yang dilarangnya. Karena penulis beranggapan manusia hanyalah debu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar