Nama : Ahmad Jais
Nim : 10533 686 111
No. Urut : 17
Hujan Dan Tangis
Oleh : Ahmad Jais
Langit kelam
Deru Guntur berkelekar
Tetesan titik air suci
Membasuh pelosok nusantara
Titik air yang seakan mencari jati
diri
Titik air yang seakan menagih hutang
Di balik rintiknya dia menegur
Di balik derasnya dia menghukum
Itu semantikku padamu hujan
Indra yang merasai
Terlukis dipasang bola mata
Mengalir air suci
Membasahi kulit pelipis kiri dan kanan
Tetesan air yang kadang menutup duka
Tetesan air yang kadang merangkai
suka
Dibalik tetesannya dia berekspresi
Dibalik tetesannya dia menjawab
Dan itu semantikku pada tangis
A.
Kritik
New Criticism
Penerapan cara kerja new criticism
pada puisi yang berjudul “ hujan dan Tangis “ yaitu sebagai berikut :
1. Close reading
Pencermatan
yang dilakukan dengan teliti dan memdetail terhadap baris demi baris, kata demi
kata sampai ke akar-akar katanya. Penerapan close reading puisi yang berjudul “
hujan dan tangis “ bias dilakukan seperti:
Langit
kelam
Deru
guntur berkelekar,
Bait
di atas terdapat kata berkelekar yang akar
katanya kelekar yang berarti bersenda gurau. Dalam puisi tersebut bunyi Guntur
yang dianggap berkelekar.
2. Empiris
Cara
kerja empiris yaitu adanya analisis, observasi, bukan pada teori. Secara
keseluruhan cara kerja empiris pada puisi yang berjudul “ hujan dan tangis “
jika kita menitikberatkan pada analisis maupun observasi pada proses pengkrititkannya
maka kita akan menemukan makna yang digambarkan penulis pada setiap terjadinya
hujan serta tangisan dalam kejadian sehari-hari. Namun, anggapan ini tidak
semua harus sama pada setiap orang yang mengapresiasi puisi tersebut.
3. Otonomia
Karya sastra
adalah sesuatu yang mandiri dan berdiri sendiri, tidak tergantung pada unsur-unsur
lain, termasuk kepada penyair/penulisnya sendiri. Kemudian jika kita kaitkan
antara puisi yang berjudul “ hujan dan tangis “ maka puisi tersebut memiliki
makna umum terhadap kejadian-kejadian yang sering terjadi dalam kehidupn
sehari-hari seperti terjadinya hujan dan tangisan. Akan tetapi penulis lebih
kreatif dalam mengkonotasikan semesta yang menangis dalan terjadinya hujan.
4. Concreteness
Hasil yang
diperoleh setelah mengapresiasi sebuah karya sastra sehingga tidak menutup
kemungkinan akan dijadikan sebagai pedoman hidup. Kemudian tidak menutup
kemungkinan setelah mengapresiasi puisi “ hujan dan tangis “ maka dalam kehidupan sehari-hari ketika
terjadi hujan maka kita akan lebih memahami serta menghargai setiap tetes air
hujan itu. Begitupun ketika terjadi tangisan maka seseorang akan dapat memahami
makna jatuhnya air mata apakah bentuk kesedihan?, apakan bentuk luapan
kegembiraaan?, daan sebagainya.
5. Bentuk (form)
Keberhasilan
seorang penyair dalam pemilihan katanya (diksi) sehingga hal inilah yang
membuat karya sastra tersebut berisi atau bermakna mendalam. Dalam puisi yang
berjudul “ hujan dan tangis “ makna konotasi seperti hujan yang dianggap penulis
sebagai airmatanya dunia. Penulis beranggapan seperti itu karena yang terjadi
sekarang ini adalah pengrusakan alam dimana-mana hal ini lah yang membuat
penulis mengidentikkan hujan sebagai bentuk kesedihan mendalam akibat ulah
manusia itu sendiri.
6. Diksi (pilihan kata)
Penulis
dalam puisi “ hujan dan tangis “
melakukan pemilihan kata (diksi) yang sangat menyentuh. Seperti Deru Guntur berkelekar dalam kalimat ini
bunyi Guntur yang dianggap berkelekar hal ini dikarenakan penulis ingin lebih
menekankan kepada pembaca agar dapat membuka matanya dan melihat yang terjadi
disekelilingnya. Sehingga dapat mengetahui dibalik kemarahannya bunyi Guntur.
7. Tone (nada)
Sikap penyair
(aku lirik) terhadap diri sendiri, diri sendiri terhadap objek atau bahan
pembicaraan, dan diri sendiri terhadap lawan bicaranya. Kemudian ketika kita
kaitkan dengan puisi yang berjudul “ hujan dan tangis “ maka penulis dalam hal ini menempatkan
dirinya terhadap bahan pembicaraan. Hal ini terlihat dari pembicaraannya
terhadap terjadinya hujan di alam semesta ini serta terjadinya tangisan yang
menimpa insan manusia. Nada yang tepat adalah diri sendiri dan objek atau bahan
pembicaraan.
8. Metafor
Perbandingan
satu objek dengan objek lain tanpa menggunakan kata-kata pembanding seperti,
bagaikan, dan sebagainya. Contohnya bait puisi karya Chairil Anwar yang
berjudul “ Aku “ seperti pada baitnya yang berbunyi “aku ini binatang jalang”. Dalam hal ini Chairil Anwar yang
menganggap dirinya sebagai binatang jalang yang bebas berekspresi serta hidup
dan tidak terikat hak-haknya.
9. Simile
Perbandingan
terhadap satu objek dengan objek lain dengan menggunakan kata-kata pembanding
seperti, bagaikan, seumpama, ibarat, laksana dan sebagainya. Seperti yang
termuat dalam bait puisinya WS Renda yang berbunyi “ rambutnya merah tergerai , bagai berkas benang-benang rayon warna
emas “. Dalam bait ini Rendra membandingkan rambut dengan benang-benang
rayon warna emas. Rendra menganggap bahwa rambut begitu indah dan berkilau sama
seperti benang-benang rayon yang berwarna emas.
10. Onomatopea
Peniruan
bunyi seperti yang terjadi dan dijumpai dalam kejadian sehari-hari. Hal ini
dapat dilihat dari puisi karya Ahmad Jais yang berjudul “ angin dan rinduku “
Ssssttttt
Oh angin malam
Aku beramanah pabamu
Sampaikanlah rinduku
Pada keklasihku di negeri seberang
Jika kita
melihat secara sekilas kata ssssttttt itu tidak memiliki makna apapun. Akan tetapi
dalam puisi ini kata tersebut juga merupakan unsur yang menbangun dilihat dari
segi onomatopea atau peniruan terhadap bunyi yang terjadi pada alam semesta
ini.
11. Paradoks
Lawan atau
kebalikan dari sesuatu yang dipergunakan dengan maksud untuk menyindir. Hal ini ditemukan dalam bait puisi karya (Acep, Bandung 1982 )
Aku menggelinding
Hanya debu
Tertiup dari sudut kesudut
Terseret-seret irama yang riuh
Unsure paradoks
yang diungkapkan penulis dalam karyanya ini untuk memberikan sindirian kepada
manusia agar selalu mengingat tuhannya dan mengerjakan apa yang
diperintahkannya serta menjauhi segala apa yang dilarangnya. Karena penulis
beranggapan manusia hanyalah debu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar