a. Menurut Socrates, retorika adalah seni untuk
membawakan dengan menyampaikan pengetahuan yang sudah ada secara meyakinkan.
b. Menurut Protagores, Retorika adalah kemahiran
berbicara bukan demi kemenangan, melainkan demi keindahan bahasa.
c. Menurut Plato, retorika adalah seni
berkomunikasi secara lisan yang dilakukan oleh seseorang kepada sejumlah orang
secara langsung.
d. Menurut Corax dan Tissias, Retorika adalah
kecakapan berpidato didepan umum.
e. Menurut Albert, Retorika adalah berbicara
berarti mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau sekelompok orang
untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
f.
Menurut saya,
Retorika meupakan seni bebahasa, artinya sesorang memiliki skill atau kemampuan
dalam berbahasa.
2. Uraikan sejarah retorika!
Jawab:
Uraian
sistematis yang pertama diletakkan oleh orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di
pulau Sicilia. Bertahun-tahun koloni itu diperintah para Tiran. Tiran,
dimanapun dan pada zaman apapun, senang menggusur tanah takyat. Kira-kira tahun
465 SM, rakyat melancarkan revolusi.
Dimana bersistem pemerintahan diktator dan pada saat itu diktator
ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi tanah
rakyat kepada pemiliknya yang sah. Untuk mengambil haknya itu pemilik tanah
harus sanggup meyakinkan dewan juri di pengadilan, waktu itu tidak ada
pengacara dan sertifikat tanah. Sering orang tidak berhasil karena ia tidak
pandai bicara untuk membantu orang mengambil haknya di pengadilan tersebut
Corax menulis makalah retorika dengan teknik kemungkinan dan dia juga
meletakkan dasar-dasar organisasi pesan. Ia membagi pidato pada lima bagian :
pembukaan, uraian, argumen, penjelasan tambahan, dan kesimpulan.
Dari sini para ahli retorika kelek
mengembangkan organisasi pidato. Walaupun demokrasi gaya Syracuse tidak
bertahan lama namun ajaran Corax tetap berpengaruh bahkan sampai pada zamannya
Aristoteles dan ahli retorika klasik, kita memperoleh lima tahap penyusunan
pidato : terkenal sebagai lima hukum retorika (The Five Canons of Rhetoric).
Inventio (penemuan). Pembicara menggali topik dan meneliti khalayak untuk
mengetahui metode persuasif yang paling tepat, dalam tahap ini pembicara
merumuskan tujuan dan mengumpulkan bahan (argumen) yang sesuai dengan kebutuhan
khalayak. Aristoteles menyebutkan tiga cara untuk mempengaruhi manusia.
Pertama, harus sanggup menunjukkan kepada khalayak bahwa kita memiliki
pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya, dan status yang terhormat
(ethos). Kedua, harus menyentuh hati khalayak: perasaan, emosi, harapan, kebencian,
dan kaih ayang mereka (pathos). Ketiga, meyakinkan khalayak dengan mengjukan
bukti atau yang kelihatan sebagai bukti. Disini kita mendekati khalayak lewat
otaknya.
Dispositio (penyusunan), pembicara
menyusun pidato atau mengorganisasikan pesan, pesan harus dibagi kedalam
beberapa bagian yang berkaitan secara logis. Susunan berikut ini mengikuti
kebiasaan berfikir manusia : pengantar, pertanyaan, argumen, dan epilog.
Menurut Aristoteles pengantar berfungsi menarik perhatian, menumbuhkan
kredibilitas (ethos), dan menjelaskan tujuan.
Elucutio (gaya) pembicara memilih
kata-kata dan menggunakan bahasa yang tepat untuk “mengemas” pesannya.
Menggunakan bahasa yang tepat, benar, dan dapat diterima; pilih kata-kata yang
jelas dan langsung; sampaikan kalimat yang indah, mulia, dan hidup; dan
sesuaikan bahas dengan pesan, khalayak, dan pembicara. Memoria (gaya),
pembicara harus mengingat apa yang ingin disampaikannya, dan mengatur
bahan-bahan pembicara. Diantara semua peniggalan retorika klasik, memori adalah
yang paling kurang mendapat prhatian para ahli modern. Pronuntiatio
(penyampaian), pembicara menyampaiakn pesannya secara lisan. Disini, akting
sangat berperang pembicara harus memperhatikan olah suara (vocis) dan
gerakan-gerakan anggota badan (gestus moderatio cumvenustate).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar