Pengertian
tentang sastra sangat beragam. Berbagai kalangan mendefinisikan pengertian
tersebut menurut versi pemahaman mereka masing-masing. Menurut A. Teeuw, sastra
dideskripsikan sebagai segala sesuatu yang tertulis; pemakaian bahasa dalam
bentuk tulis. Sementara itu, Jacob Sumardjo dan Saini K.M. mendefnisikan sastra
dengan 5 buah pengertian, dan dari ke-5 pengertian tersebut dibatasi menjadi
sebuah definisi. Sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman,
pemikiran, semangat, dan keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang
membangkitkan pesona dengan alat bahasa. Secara lebih rinci lagi, Faruk
mengemukakan bahwa pada mulanya pengertian sastra amat luas, yakni mencakup
segala macam hasil aktivitas bahasa atau tulis-menulis. Seiring dengan
meluasnya
Kebiasaan
membaca dan menulis, pengertian tersebut menyempit dan didefinisikan sebagai segala
hasil aktivitas bahasa yang bersifat imajinatif, baik dalam kehidupan yang
tergambar di dalamnya, maupun dalam hal bahasa yang digunakan untuk
menggambarkan kehidupan itu.Untuk mempelajari sastra lebih dalam lagi,
setidaknya terdapat 5 karakteristik sastra yang mesti dipahami. Pertama,
pemahaman bahwa sastra memiliki tafsiran mimesis. Artinya, sastra yang
diciptakan harus mencerminkan kenyataan. Kalau pun belum, karya sastra yang
diciptakan dituntut untuk mendekati kenyataan.Kedua, manfaat sastra.
Mempelajari sastra mau tidak mau harus mengetahui apa manfaat sastra bagi para
penikmatnya. Dengan mengetahui manfaat yang ada, paling tidak kita mampu
memberikan kesan bahwa sastra yang diciptakan berguna untuk kemaslahatan manusia.Ketiga,
dalam sastra harus disepakati adanya unsur fiksionalitas.
Unsur
fiksionalitas sendiri merupakan cerminan kenyataan, merupakan unsur realitas
yang tidak ‘terkesan’ dibuat-buat.Keempat, pemahaman bahwa karya sastra
merupakan sebuah karya seni. Dengan adanya karakteristik sebagai karya seni
ini, pada akhirnya kita dapat membedakan mana karya yang termasuk sastra dan
bukan sastra.Kelima, setelah empat karakteristik ini kita pahami, pada akhirnya
harus bermuara pada kenyataan bahwa sastra merupakan bagian dari masyarakat.
Hal ini mengindikasikan bahwa sastra yang ditulis pada kurun waktu tertentu
memiliki tanda-tanda, yang kurang lebih sama, dengan norma, adat, atau
kebiasaan yang muncul berbarengan dengan hadirnya sebuah karya sastra.
Teks sastra
adalah ungkapan bahasa yang menurut isi, sintaksis, dan pragmatik merupakan
sebuah kesatuan, sedangkan konteks adalah fungsi yang diacu oleh teks. Baik
teks maupun konteks, keduanya senantiasa hadir secara bersama dan tidak dapat dipisahkan.Terdapat
enam faktor yang menentukan sebuah teks. Faktor tersebut selanjutnya disebut
sebagai faktor-faktor yang berperan dalam tindak komunikasi. Keenam faktor
tersebut adalah: (1) pemancar, (2) penerima, (3) pesan (teks itu sendiri), (4)
kenyataan atau konteks yang diacu, (5) kode, dan (6) saluran. Sementara itu,
terdapat empat jenis teks, yakni: (1) teks acuan, (2) teks ekspresif, (3) teks
persuasif, dan (4) teks-teks mengenai teks. Teks acuan dibedakan lagi menjadi
tiga, yakni: (1) teks informatif, (2) teks diakursif, dan (3) teks instruktif.
Pada akhirnya, semua pembahasan
mengenai teks harus bermuara pada bagaimana cara menilai teks-teks sastra.
Memang, ilmu sastra tidak memberikan penilaian pada teks, tidak menghakimi
baik-buruknya teks, tetapi ia bersama para ahli estetika dan juga kritikus
sastra, mempelajari fakta dan relasi-relasi atau instrumen-instrumen yang
diungkapkan dalam sebuah penilaian.
DAFTAR PUSTAKA
Alha Pangeran. (1998). BMP
Pendidikan Pancasila. Jakarta: Penerbit Karunika.
Depdiknas.(2001). Kamus Besar
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdiknas. (2000). Tata Bahasa
Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Hartoko, Dick. (1986). Pengantar
Ilmu Sastra (Terjemahan). Jakarta: Gramedia.
Semi, M. Atar. (1988). Anatomi
Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Sumardjo, Jakob dan Saini, K.M.
(1991). Apresiasi Kesusatraan. Jakarta: Gramedia.
Tarigan, Henry Guntur. (1986).
Prinsip-prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
Teeuw, A. (1987). Sastra dan
Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Tohari, Ahmad. (1991). Ronggeng
Dukuh Paruk. Jakarta: Gramedia.
—————–(1994). Bekibar Merah.
Jakarta: Gramedia.
——————(1992). Senyum Karyamin
(Kumpulan Cerpen). Jakarta: Gramedia.
Wellek, Rene dan Austin Warren.
(1989). Dasar-dasar Teori Sastra. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar