Judul : Siti Nurbaya (Kasih
Tak Sampai)
Nama
Pengarang : Marah Rusli
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun
Terbit : 2008
Cetakan : Ke-44
Tebal
Buku : 334 halaman
Kota
Terbit : Jakarta
Karakteristik :
Fiksi
Ukuran :
15 x 20,5 cm
Pelaku :Siti Nurbaya, Samsulbahri, Datuk
Maringgih,
Baginda Sulaiman, dan
Sultan
Mahmud.
Kira-kira pukul 1 siang, kelihatan
2 anak remaja sedang berteduh dibawah pohon yang rindang, di depan sekolah
belanda pasar Ambacang di Padang. Seorang dari remaja itu adalah laki-laki yang
bernama Samsul Bahri dan seorang lagi adalah perempuan yang bernama Siti
Nurbaya. Mereka berdua sedang menunggu bendi yang biasa menjemput mereka
sepulang sekolah. Setelah kira-kira pukul 2 siang akhirnya datang dengan
dikendarai oleh
Akhirnya tibalah waktu
Samsul,Arifin dan Bakhtiar untuk pergi ke Jakarta untuk menunutut ilmu. Dimalam
kepergian, mereka mengadakan pesta di rumah Samsul untuk mengatakan selamat
tinggal kepada sanak saudara dan para sahabat. Di pesta itu Nurbaya, Samsul,
Arifin dan Bakhtiar bercanda ria kepada para sahabat yang datang. Setelah pukul
9 para tamu pulang dan pestapun berakhir. Setelah Arifin dan Bakhtiar pulang,
Samsul mengantar Nurbaya pulang. Di perjalanan Samsul dan Nur bercakap-cakap,
setelan Mereka sampai di depan rumah Nur , Samsul mengajak Nur
berbincang-bincang di bawah pohon. Samsul mengatakan perasaan cinta yang selama
ini Ia pendam kepada Nur dan Nur pun menerima cinta Samsul, mereka berduapun
mengucapkan janji untuk sehidup semati. Tak terasa lonceng berbunyi pertanda
bahwa jam menunjukkan telah pukul 1 malam. Kemudian Nur masuk ke dalam rumah
dan Samsul pulang. Keesokan hari sanak saudara Samsul berkumpul di pelabuhan
mengantar kepergian Samsul termasuk Nurbaya pun ada diantara mereka. Sampai
pada akhirnya peluit ketiga kapal berbunyi tanda bahwa kapal akan segera
berlayar. Tak lama kemudian kapalpun berlayar, Samsul yang berada di atas kapal
melambaikan sapu tangannya yang berwarna biru kepada Nur, Nur pun membalas
lambaian tangan Samsul dengan melambaikan sapu tangan merah jambunya. Tak lama
kemudian kapalpun menjauh dan menghilang dari pandangan Nur. Kemudian Nur dan
sanak saudara pulang sambil bercucuran air mata.
Malamnya Datuk Maringgih
terlihat sedang duduk di depan rumahnya. Tak lama kemudian datanglah pendekar
Lima salah satu anak buahnya. Datuk maringgih hendak menyuruh Pendekar Lima
untuk menghancurkan usaha Baginda Sulaiman karena Ia tidak suka kalau ada orang
lain yang usahanya maju selain Dia. Keesokan malamnya Pendekar Lima dan
beberapa anak buahnya hendak membakar toko-toko Baginda Sulaiman. Dan saat itu
juga Baginda Sulaiman sedang pergi ke Padang Panjang mengurus dagangannya di
beberapa langganannya yang rupanya tidak mau mengambil barang-barang lagi
kepada Baginda Sulaiman karena mereka sudah terkena hasutan dari Datuk
Maringgih. Akhirnya semua toko Baginda Sulaiman habis terbakar dan satu orang
penjaga toko pun ikut terbakar. Di dekat tempat kejadian masyarakat menemukan
beberapa drigen minyak tanah yang sudah dibuang oleh seseorang. Nurbaya
mendengar berita itu dan menangislah Dia. Beberapa hari kemudian, Baginda
Sulaiman meminjam uang kepada Datuk Maringgih sebesar 10.000. dan akan
dikembalikan dalam jangka waktu 5 bulan. Uang itu dipakai Baginda Sulaiman
untuk memulai usahanya kembali. Akan tetapi selama tiga bulan itu usahanya
selalu rugi sehingga habislah uang itu. Saat itulah Baginda Sulaiman baru tahu
bagaimana hati Datuk Maringgih kepadanya. Datanglah Datuk Maringgih menagih
hutang, akan tetapi Baginda Sulaiman belum bisa membayarnya, dan diapun meminta
waktu 1 minggu lagi untuk melunasinya. Dengan susah payah akhirnya disetujuinya
dengan syarat apabila Baginda Sulaiman tidak bisa membayar maka rumah dan
barang-barang akan disitanya dan tetapi apabila Siti Nurbaya diberikan
kepadanya. Baginda Sulaimanpun boleh membayar hutang-hutangnya kapanpun, jika
ada uang. Baginda Sulaiman akan dimasukan ke dalam penjara waktu satu minggu
pun telah habis , malamnya Baginda Sulaiman datang menemui Nurbaya untuk meminta
jawabannya, akan tetapi dia tidak menjawab hanya air mata yang keluar dari
matanya. Pagipun tiba, seketika itu Datuk Maringgih datang untuk menagih hutang
dengan membawa dua orang Belanda keluarlah Baginda Sulaiman dan berkata bahwa
Ia tidak bisa membayar hutangnyadan tidak bisa memberikan anaknya kepada Datuk
Maringgih. Seketika itu Baginda Sulaiman hendak dibawa oleh dua orang Belanda
itu lalu keluarlah Nurbaya dan berkata “ biarlah Aku menjadi istri Datuk
Maringgih” . mendengar itu Datuk Maringgih tersenyum dan dilepaskannya Baginda
Sulaiman. Dan begitu pulalah surat terakhir yang dikirim Nurbaya untuk Samsul
itu.
Setelah libur puasa tiba Samsul
Bahri pulang ke Padang. Sesampainya di rumahnya Ia hanya melamun dan menatap
rumah Siti Nurbaya. Saat itu Ayahnya berkat kepadanya bahwa Baginda Sulaiman
sedang sakit. Kemudian bergegaslah Ia menuju rumah Baginda Sulaiman dengan
membawa buah-buahan. Sesampainya Ia disana terkejutlah Ia karena betapa badan
Baginda Sulaiman yang dulu dengan yang ada di hadapannya sekarang. Lalu Ia
berbincang-bincang dengan Baginda Sulaiman. Setelah beberapa lama masuklah Siti
Nurbaya. Dan bertemulah Siti Nurbaya dengan Samsul lalu Baginda Sulaiman
berkata kepada Samsul agar Ia menjaga Nurbaya setelah Ia meninggal nanti.
Setelah itu Nurbaya hendak mengantarkan Samsul pulang akan tetapi mereka
terhenti dan duduk di kursi dekat pohon di depan rumah Nurbaya. Mereka
berbincang-bincang, tiba-tiba muncul Datuk Maringgih memergoki mereka sedang
berduaan. Berkelahilah Datuk Maringgih dan Samsul, kemudian jatuhlah Datuk
Maringgih terkena pukulan Samsul. Tiba-tiba datanglah masyarakat untuk melihat
apa yang terjadi, tak lama kemudian Ayah Samsul Sutan Mahmud Syah untuk melerai
perkelahian ini, saat itu Baginda Sulaiman keluar dan terjatuh, seketika itu
pula Ia meninggal dunia. Menangislah Nurbaya dan Samsul pun diusir oleh
Ayahnya. Lalu samsul pergi kembali ke Jakarta. Ibunya menangis lalu jatuh
sakit.
Nurbaya tahu bahwa Samsul
pulang ke Jakarta. Diapun berniat untuk menyusulnya. Keesokan harinya Nurbaya
dengan didampingi oleh pak Ali pergi ke Jakarta dengan tergesa-gesa takut kalau
ada orang yang mengikutinya. Firasat ternyata benar, saat Nurbaya naik kapal
satu orang mengikuti mereka. Dia adalah pendekar Lima anak buah Datuk
Maringgih. Malamnya di atas kapal saat Siti Nurbaya sedang berjalan-jalan,
tiba-tiba kapal oleng karena ombak
sangat tinggi. Saat Nurbaya hendak jatuh ada seorang yang mengangkatnya
dan ingin melemparnya ke laut, akan tetapi Nurbaya berteriak lalu Pak Ali pun
datang menyelamatkannya. Orang itupun pergi menghilang. Tak lama kemudian
Kapitan kapal datang dan menyuruh anak buahnya mencari orang itu. Nurbaya lalu
dibawa ke ruang kesehatan kapal. Esok paginya Ia sampai di Jakarta. Ternyata
Samsul sudah menunggunya, saat ia menemui Nurbaya tiba-tiba datanglah 1 orang
polisi dengan membawa surat kabar yang berisi laporan bahwa Nurbaya dan Pak Ali
di tuduh mencuri uang Datuk Maaringgih. Nurbaya dan Pak Ali disuruh pulang ke
Padang untuk menyelesaikan masalah tersebut karena Nurbaya sedang sakit maka Ia
dibawa ke rumah sakit di Jakarta. Setelah beberapa hari akhirnya Nurbaya sehat
kembali. Setelah sampai di rumah RT ( tempat sementara Nurbaya tinggal di
Jakarta), lalu Samsul menceritakan apa yang erjadi. Nurbaya sangat sedih, untuk
menghibur Nurbaya lalu Samsul menajak Nurbaya berjalan-jalan. Keesokan paginya
Nurbaya dan Pak Ali pulang ke Padang untuk menyelesaikan masalah itu. Dan
ternyata Nurbaya dan Pak Ali tidak bersalah, akan tetapi Datuk Maringgih tidak
mendapat hukuman karena Ia saudagar yang kaya raya di Padang. Paginya Nurbaya
sedang berbincang-bincang di teras rumah dengan paman, Bibi, serta sepupunya.
Saat itu lewatlah tukang kue dan Nurbaya membeli 4 buah kue lemang. Pamannya
masuk ke dalam rumah dihabiskannya semua lemang itu karena Bibi dan Sepupunya
itu sedang tidak ingin makan lemang. Bibinya menyuruh untuk merapikan teras.
Saat Nurbaya dan Sepupunya berjalan masuk ke dalam rumah tiba-tiba Nurbaya
jatuh, lalu diangkatlah Ia ke kamarnya dan Ia meminta Sepupunya untuk memijit
kepalanya lama-kelamaan Ia tertidur dan nafasnya pun sudah tidak ada lalu
sepupunya menjerit dan Paman dan Bibinya datang, ternyata Nurbaya pun sudah
meninggal. Mereka pun menangis. Tukang kue tadi ternyata anak buah Datuk
Maringgih, yang hendak membunuh Nurbaya dan mencampurkan racun ke lemang tadi
karena mendengar Nurbaya meninggal Ibu Samsul pun meninggal dunia. Mereka
berdua dikuburkan di gunung Panjang dekat dengan kuburan ayah Siti Nurbaya.
Saat mendengar berita kematian
2 wanita yang dicintainya, Samsul merasa sangat sedih dan hendak membunuh diri
sebelum Ia mengirim surat permohonan maaf untuk ayahnya. Setelah Ia
menghantarkan surat itu ke kantor pos lalu Ia pergi ke taman bunga dan duduk di
kursi tak lama kemudian menembakkan pistol ke kepalanya. Arifin yang melihat
itu berteriak tapi terlambat. Menangislah Dia mendapati Sahabatnya telah
meninggal.
Sepuluh tahun kemudian, setelah
kematian Samsul Bahri. Dua orang tentara Belanda sedang berjalan sambil
berbincang-bincang menuju stasiun kereta di Cimahi hendak pergi menuju Rumah
Bola merek adalah letnan Yan Vann Sta dan Letnan Mas yang asli orang Bumi
Putra. Sesampainya mereka di sana, mereka lalu memesan minuman. Tak lama
kemudian datanglah seorang tentara dengan tergesa-gesa membawa informasi dari
Kapitan bahwa mereka akan ditugaskan ke Padang untuk melerai kerusuhan atas
perkara Belasting. Keesokan paginya 2 Letnan itu dan para Tentara, mereka pergi
ke padang dengan kapal.
Di Padang sebelum kedatangan
para Tentara Belanda, pemerintah Padang sedang bermusyawarah tentang masalah
uang Belasting. Dalam musyawarah itu Datuk Maringgih berusaha untuk
menghasut masyarakat yang lain agar
tidak membayar uang belasting. Datuk Maringgih berhasil menghasut mereka, dan
mereka menyatakan akan melawan para Tentara Belanda.
Keesokan paginya kapal yang
ditumpangi Tentara Belanda tiba di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang. Masyarakat
gempar dan para wanita serta anak-anak pergi mencari perlindungan. Letanan Mas
dengan menyewa bendi datang ke gunung Padang melihat makam Nurbaya, Siti Maryam,
dan Baginda Sulaiman. Setelah melihat dan menangis di atas makam, pulanglah
Letnan Mas. Malamnya orang-orang yang memakai pakaian serba putih sedang
berkumpul, bermusyawarah tentang bagaimana menyerang para tentara Belanda.
Tatkala kelihatan para tentara Belanda datang, gemparlah mereka mencari
senjata. Setalah diminta baik-baik oleh tentara Belanda untuk menyerahkan diri
tidak didengar oleh pemberontak, akhirnya perang terjadi. karena kalah para
pemberontak melarikan diri para tentara mengejarnya. Saat Letnan Mas mengejar
terlihat seorang yaitu Datuk Maringgih. Tetapi saat Datuk Maringgih melihat
Letnan Mas dia terkejut, karena Dia sangat mirip dengan Samsul Bahri. Ternyata
dugaan Datuk Maringgih benar, Letnan Mas adalah Samsul Bahri. Saat ia bunuh diri
dengan menembakan pistolnya ke kepala, ternyata pelurunya hanya meretakkan
tengkoraknya tidak sampai menembus kepalanya. Setelah bercerita itu Letnan Mas
menembakkan pistolnya ke Datuk begitu pula Datuk menyerang Letnan Mas dengan
parangnya. Mereka berdua jatuh karena luka mereka masing-masing. Setelah itu
dibawalah Letnan Mas oleh tentaranya ke rumah sakit. Paginya saat terbenam
dengan terbata-bata, ia meminta agar Dokter mau mempertemukan ia dengan Sutan
Mahmud.
Akhirnya
Letnan Mas dipertemukan dengan Sutan Mahmud. Sutan Mahmud sangat terkejut
karena Letnan Mas mirip dengan anaknya Samsul Bahri. Ketika Dokter datang
bangunlah Letnan Mas dan berbicara mengenai Samsul Bahri bahwa Samsul Bahri masih hidup, dan menjadi
Letnan dan dikenal dengan Letnan Mas. Dengan terbata-bata ia mengakhiri
percakapan mereka dengan meminta kalau Letnan Mas meninggal ia ingin dimakamkan
di antara makam Nurbaya dan siti Maryam. Tak lama kemudian akhirnya Letnan Mas
meninggal dunia. Lalu Sutan Mahmud bertanya kepada Dokter siapakah Tentara
Belanda yang bernama Letnan Mas? dokter menjawab bahwa yang baru saja meninggal
dunia itu adalah Letnan Mas. Sutan Mahmud menangis dam menyesali perbuatannya.
Keesokan harinya Letnan Mas dimakamkan sesuai dengan permintaannya. Dua bulan
kemudian Arifin dan Bakhtiar mengunjungi makam sahabatnya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar